Dari sudut pandang sistem mutu dan Quality Control, QC bukanlah pihak yang bertanggung jawab memperbaiki barang reject. Tugas utama QC adalah mengidentifikasi, mengukur, mengisolasi, dan memverifikasi apakah suatu produk atau material memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
Pihak yang bertanggung jawab melakukan repair bergantung pada sumber penyebab reject tersebut:
1. Jika Reject Terjadi Saat Proses Produksi
Maka yang bertanggung jawab melakukan perbaikan biasanya adalah departemen Produksi atau unit yang menghasilkan produk tersebut.
Alasannya sederhana: mereka memiliki kompetensi, peralatan, dan otoritas untuk melakukan rework atau repair sesuai instruksi kerja yang berlaku.
Alurnya biasanya:
Produksi → menghasilkan barang → QC menemukan reject → Produksi melakukan repair → QC melakukan re-inspeksi → barang dinyatakan OK atau tetap reject.
2. Jika Reject Berasal dari Supplier
Apabila material datang dari supplier dan ditemukan cacat saat incoming inspection, maka secara prinsip tanggung jawab berada pada supplier.
Pilihan yang biasanya dilakukan:
- Return ke supplier (Return Material Authorization)
- Supplier melakukan sorting di lokasi customer
- Supplier mengirim replacement material
- Supplier mengirim tim repair jika memungkinkan
QC hanya bertugas membuat laporan reject dan memberikan bukti ketidaksesuaian.
3. Jika Repair Memerlukan Keahlian Khusus
Pada beberapa industri seperti otomotif, elektronik, atau manufaktur presisi, terdapat tim repair khusus atau engineering support yang memiliki wewenang melakukan perbaikan.
Dalam kondisi ini:
QC → menemukan defect
Engineering → menentukan metode repair
Repair Team → melakukan repair
QC → melakukan verifikasi hasil repair
4. Jika Penyebab Reject Adalah Kesalahan Desain
Maka tanggung jawab utama berada pada Engineering atau Product Development.
Tidak jarang suatu produk terus-menerus mengalami reject bukan karena operator salah, tetapi karena desain produk memang sulit diproduksi atau toleransinya terlalu ketat.
Dalam kasus seperti ini, repair hanya menjadi solusi sementara. Solusi permanennya adalah redesign.
Prinsip Penting dalam QC
Ada satu prinsip yang sangat terkenal dalam manajemen mutu:
"The person who creates the defect should own the corrective action."
Artinya, pihak yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian pada dasarnya adalah pihak yang harus bertanggung jawab melakukan tindakan perbaikan.
Karena itu, QC seharusnya tidak berubah fungsi menjadi "departemen tukang repair". Jika QC terlalu sering melakukan perbaikan barang reject, maka fungsi independensi QC menjadi kabur. QC bisa kehilangan objektivitas karena memeriksa hasil kerjanya sendiri.
Peran Ideal QC
- Menemukan defect
- Mengukur tingkat defect
- Mengisolasi barang NG (Not Good)
- Membuat laporan ketidaksesuaian
- Memverifikasi hasil repair
- Menganalisis akar masalah
- Memberikan rekomendasi perbaikan sistem
Bukan Peran Utama QC
- Melakukan repair rutin
- Menjadi operator produksi cadangan
- Menutupi defect agar target produksi tercapai
- Memperbaiki barang lalu menginspeksi hasil perbaikannya sendiri
Dengan demikian, dalam praktik Quality Management yang baik, tanggung jawab repair berada pada departemen yang menghasilkan atau menyebabkan terjadinya reject, sedangkan QC bertindak sebagai pihak independen yang memverifikasi apakah hasil repair sudah sesuai standar atau belum.

No comments:
Post a Comment